November 16, 2020

Apa yang akan Kita Tinggalkan?

Apa yang akan Kita Tinggalkan?
Alhamdulillahi rabbil 'alamiin.
Washolatu ma'a salami 'ala nabiyyil karim, sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in.

Innalillahi wainna ilaihi rooji'uun. Hari ini, malam senin 30 Robi'ul Uula kita mendapat kabar duka dari wafatnya syaikhuna al 'allamah Ali bin Hasan Alhalaby -rohimahullahu rohmatan waasi'atan-. Seorang ulama ahlul hadits murid dari syaikh al-albany -rahimahumallahu-.
 
Yang mana ketika dulu Syaikh Albany dalam keadaan sakit di akhir hidup beliau -Rahimahullah-, Syaikh ditanya 'Wahai syaikh, kepada siapa kami akan merujuk tentang ilmu hadits sepeninggal engkau?' Kemudian syaikh menyebut dua nama, 'Bertanyalah kepada Abu Ishaq Al-Huwaini -Hafidzahullah- & Ali Hasan Al-Halaby'.
 
Kini salah satu dari dua orang tersebut pergi meninggalkan kita semua. Rahimahullah.

Kami mendapat kabar ini pertama kali dari al-ustadz nur cholis saat awal beliau memulai dars syarhu ushuli tsalatsah, dengan perasaan sedih. Kemudian beliau -ustadz nur cholis- setelah mendokan syaikh, melanjutkan dars seperti biasa.

Di akhir dars sebelum menutup ta'lim beliau menyampaikan nasihat untuknya pribadi dan kepada jama'ah,

'Kita patut bersedih, bukan hanya karena kehilangan ulama ahlussunnah. Tetapi kita patut merenung. Syaikh Ali Hasan dan ulama yang lain -Rahimahumullah- meninggalkan dunia ini dengan mewarisi sesuatu yang bermanfaat bagi islam dan umat muslim. Sepatutnya kita bertanya kepada diri kita sendiri. Kelak, ketika kita dipanggil oleh Allah, apa yang telah kita tinggalkan untuk islam dan umat muslim?

Maka saya menasihati kepada diri pribadi dan antum sekalian, jangan hanya menjadi penggembira dalam dakwah ini. Berikanlah porsi yang lebih untuk dakwah sunnah ini.
 
Senang datang kajian, meramaikan tabligh akbar, duduk belajar bahasa arab dan yang semisalnya, thayyib semuanya baik. Namun, kelak apa yang kita tinggalkan?
 
Para ulama meninggalkan kitab, nasihat dan ilmu yang Insyaallah terus mengalir ketika mereka telah meninggal. Lalu bagaimana dengan kita?

Sekarang ada facebook, twitter dan media sosial lain, bagikanlah hal-hal yang baik. Bagi yang kelebihan harta maka sisihkanlah untuk jalan dakwah ini. Tidak ada hitung-hitungan terhadap dakwah ini. Tidak ada ceritanya seorang hidupnya susah karena menolong agama Allah.

Maka berbuatlah lebih, jangan hanya menjadi penggembira.' *

Semoga Allah menjadikan kita semua bagian dari pilar dakwah yang mulia ini. Sehingga Allah jadikan kita istiqomah di atas Al-Quran dan As-Sunnah.

Semoga Allah kumpulkan kita semua bersama dengan para nabi dan rasul serta ulama ahlusunnah yang kita cintai, di jannah firdausNya yang tertinggi.

Wabillahi taufiq, walhamdulillah.

* Dengan penyesuaian

Agustus 24, 2020

Risalah Nubuwah #2: Bersabar di atas Ujian

Risalah Nubuwah #2: Bersabar di atas Ujian

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada hamba-Nya yang ia kehendaki. Sehingga ketika kami menulis ini sebagai wasilah menyampaikan kebaikan, ialah karena taufik-Nya semata.

Delapan bulan sejak tulisan terakhir sebelum ini, telah begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kami. Dan semoga apa yang akan kami tulis ini dapat memberikan manfaat bagi diri kami pribadi secara khusus dan umumnya kepada para pembaca.

Qoddarallah wa maa sya'a' fa'ala

Hingga detik ini pandemic Covid-19 belum juga pergi dari bumi yang kita cintai. Bahkan atas takdirnya jualah tren kasus Covid-19 terus bertambah. Nas'alulllaha assalamah wal'afiyah. Semoga Allah menjaga kita semua dari keburukan makhluk yang ia ciptakan.

Setiap yang Dia kerjakan, pasti mengandung hikmah, baik kita mengetahuinya maupun tidak kita ketahui.

Mulai dari malam-malam Ramadhan yang telah lalu berbeda dari biasanya, sampai pelaksanaan ibadah haji yang begitu sepi. Kajian-kajian ilmiah virtual, hingga sholat berjam'ah dengan shaf-shaf yang renggang.

Ternyata semua itu adalah nikmat.

I'tikaf di malam Ramadhan adalah nikmat, sholat berjama'ah adalah nikmat, menghadiri kajian ilmu dan berkumpul dengan orang-orang sholeh adalah nikmat.

Beberapa nikmat yang Allah hendak beri tahu kepada hamba-Nya yang mungkin selama ini sudah pudar kepekaan dalam menyadari semua itu adalah nikmat. Masyaallah.

Sekian muqaddimah dari tulisan ini.

 

Walhamdulillah pada  Sabtu, 8 Agustus 2020 yang lalu kami menghadiri kajian ilmiah yang disampaikan oleh guru kami Ustadz Nur Cholis Hafidzahullah yang diambil dari kitab Syarh Tsalatsatill Ushul buah karya Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh Hafidzahullah.

Kami mendengar suatu hikmah dari potongan kajian tersebut berkaitan dengan Bersabar di atas gangguan.

Syaikh menulis,

  

Permasalahan Keempat: (Sabar terhadap gangguan dalam berdakwah). Setelah dakwah, datang kewajiban keempat yaitu sabar. Maka yang telah mengetahui (agama) kemudian mengamalkan kemudian berdakwah, wajib baginya bersabar atas gangguan. Karena sunnatullah 'azza wajalla yang menjadikan para nabi dan para rasul -yang mana mereka adalah sebaik-baik ciptaan dan memiliki derajat yang tinggai- merupakan manusia yang paling sulit dan berhadapan dengan ujiannya. Mereka bersabar untuk berpaling dari orang-orang kafir dan bersabar terhadap gangguan. Maka mereka mendapat apa yang telah mereka dapatkan (dari kebaikan). Maka para da'i perlu untuk bersabar sebagaimana sabarnya para rasul. Bahkan Nabi Shallahu 'alaihi wasalam diperintah untuk mengikuti orang-orang yang bersabar (dari kalangan Rasul) dengan firman Allah, "Maka bersabarlah sebagainya mana terlah bersabat Ulul Azmi dari kalangan Rasul dan janganlah kamu tergesa-gesa untuk disegerakan (azab) bagi mereka (orang-orang kafir)" [Al-Ahqof:35]

Maka sabar sangat penting bagi yang telah mengetahui (agama), kemudian mengamalkan dan berdakwah. Jika dia tidak bersabar, maka dia akan menjadi gelisah karena orang-orang yang tidak yakin (orang kafir). Allah 'Azza wajalla berfirman, "Bersabarlah! Sesungguhnya janji Allah ada pasti. Dan janganlah orang-orang yang tidak yakin (terhadap kebenaran ayat-ayat Allah) membuatmu gelisah." [Ar-Rum:60] Dan Nabi Shallahu 'alaihi wasalam mewanti-wanti kepada sahabatnya yang tegesa-gesa, "Akan tetapi kalian adalah orang-orang yang tergesa-gesa".

Pembaca sekalian, setelah mempelajari agama Allah, mengerjakannya dan mendakwahkan kepada manusia, kesabaran menjadi menyempurna bagi kita untuk teguh di atas aqidah yang mulia ini. Sabar adalah ibadah yang agung. Sebagaimana Allah mengatakan bahwa Dia menyertai orang-orang yang sabar.

Maka diantara hikmah yang dapat kita ambil, ialah kesabaran dapat menjadikan orang yang melakukannya mendapatkan derajat dan balasan yang tinggi di sisi Allah. Sebagaimana para nabi dan rasul ialah manusia yang paling diberikan ujian oleh Allah dan mereka bersabar di atasnya.

---

Kemudian Ustadz Nur Cholis menukil dari kitab Syarh Tsalatsatil Ushul yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-'Utsaimin Rahimahullah. Sabar dalam berdakwah itu ada 3 jenis:

1. Sabar terhadap gangguan

Sudah menjadi sunnatullah barangsiapa yang berada dalam kebeneran, niscaya Allah akan mengujinya. Ahlul Haq akan diganggu oleh Ahlul Bathil. Ahlu Tauhid akan ditentang oleh Ahlu Syirik. Pengikut sunnah akan selalu berseberangan dengan pengekor hawa nafsu yang berkarat dengan bid'ah mereka.

Allah berfirman,

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan 'kami beriman' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut:2)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

Referensi: https://tafsirweb.com/7228-quran-surat-al-ankabut-ayat-2.html

2. Sabar di jalan dakwah

Seseorang yang berada di jalan dakwah sudah pasti akan merasakan keletihan, rasa bosan hingga keputusasaan. Maka tidak boleh seorang da'i meninggalkan jalan dakwahnya karena godaan syaiton tersebut.

Jika karena keterbatasan ilmu seorang tidak bisa menyampaikan kepada khalayak umum, maka ia tetap wajib berdakwah kepada orang-orang terdekatnya. Orang tua, istri/suami, keturunan dan sanak kerabat merupakan objek-objek dakwah yang kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.

Sungguh menyelamatkan sanak kerabat kita dari jurang kesyirikan dan bid'ah, lebih utama dari meninggalkan harta waris yang banyak.

Jangan sampai kelak ketika datang di hari kiamat, kita bermusuh-musuhan dengan orang-orang yang kita berkasih sayang dengan mereka selama di dunia. Karena kasih sayang yang tidak didasari takwa kepada Allah.

Wal'iyadzubillah.

3. Sabar terhadap topik dakwah

Seluruh nabi dan para rasul tidak diutus kecuali untuk menyeru kepada umat agar menyembah Allah. 

"Dan sungguh kami telah mengurus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyeru): "Sembahlah Allah saja dan jauhilah Thogut" (QS. An-Nahl:36)

Inilah inti dari dakwah. Pondasi dalam mensyiarkan agama Allah. Bukan membahas apa yang disenangi umat. Apakah dakwah dengan adab dulu? Ahsan. Adab yang tertinggi adalah adab kita kepada rabbul 'alamin, yakni bagaimana kita mengesakan tanpa menyekutukannya dengan suatu apapun.

Bukan tidak boleh seorang membahas fiqh, birul walidain, rumah tangga, tazkiyatun nafs dan lain sebagainya. Tetapi sisipkanlah pesan kepada umat bahwa semua seruan ini ialah dalam rangka menyembah Allah saja.

Dakwah tauhid memang memecah belah. Memecah belah antara ahlul haq dengan keimananya kepada Allah dan ahlul bathil bersama persekutuannya.

---

Kemudian beliau menambahkan faidah lainnya, bahwa tidak mesti bagi seorang da'i untuk melihat buah dari dakwahnya ketika dia masih hidup. Dan ini sebab pentingnya sabar dalam dakwah. Karena bisa jadi buah dari dakwahnya baru berdampak ketika seorang dari itu telah meninggal.

Dan beliau memberikan nasihat kepada kami untuk menjadi orang tua yang bersabar dalam mendidik anak. Cari sebab-sebab yang baik untuk mendidik anak tapi jangan bergantung dengan sebab tersebut. Jangan berpasrah pada ma'had yang mahal dengan fasilitas lengkap, jangan merasa lega dengan pondok pesantren yang akan mencetak anak-anak islami.

Jadikan ma'had sebagai wasilah dan bertawakal, bergantunglah hanya kepada Allah dan bersabar. Karena Allah yang menggenggam dan membolak-balik hati.

Kemudian beliau bercerita tentang seorang perjalanan hidup seorang da'i yang telah kita ketahui dan dirujuk pendapat-pendapatnya. Seorang anak masa kecilnya menempuh pendidikan umum dan datang jauh-jauh dari Sorong Papua untuk belajar teknik di salah satu Universitas di Yogyakarta, kemudian memutar stirnya untuk belajar agama sehingga beliau menjadi lulusan S3 Universitas Islam Madinah yang kita kenal dengan Dr. Firanda Andirja As-Soronji.

Itu adalah bagaimana Allah membolak-balik hati hamba-Nya.

Wabillahi waufik walhamdulillah.


Surabaya, 4 Muharrom 1442H

Abu Fatimah

November 08, 2019

Risalah Nubuwah #1: Mengharamkan Jasad dari Neraka

Bismillahirrahmanirrahiim


Hadits diriwayatkan dari Al-Bukhari No. 465, Muslim No. 33 dan Ahmad (4/44)

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka, barangsiapa yang mengatakan 'Tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah' dan dengan hal tersebut dia mengharap wajah Allah."

Faidah Hadits:
1. Kemuliaan Tauhid dan sesungguhnya Tauhid itu membebaskan dari neraka dan menghapus dosa-dosa.
2. Tidak cukup iman itu hanya diikrarkan tanpa keyakinan.
3. Tidaklah cukup iman itu hanya keyakinan tanpa diikrarkan.
4. Pengharaman atas neraka bagi orang sempurna ketauhidannya.
5. Sesungguhnya barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa allahu, namun dia menyeru (beribadah) kepada selain Allah, maka kalimat tauhid itu tidak bermanfaat baginya.
6. Penisbatan wajah Allah Subhanahu wa ta'ala, sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya.
---
Sumber:
- Al-Mulakhos fi Syarhi Kitabit Tauhid - Syaikh Sholeh Fauzan (Hafidzahullahu ta'ala)

Desember 14, 2018

Kemudahan Menyertai Kesulitan


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين
وصلاة وسلام على نبي الكريم محمد وعلى اله واصحبه اجمعين

قل تعالي
Telah berfirman Allah Subhanahu Wata'aala,

فَإِنَ مَعَ العُسْرِ يُسْرًا《٥》إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا《٦》 (سورة الإنشراح)

Maka sesungguhnya berserta kesulitan ada kemudahan. Sesunggunya beserta kesulitan ada kemudahan.

Allah berfirman tentang (العسر) 'kesulitan' dalam bentuk Ma'rifat (dengan alif lam) atau telah ditentukan/diketahui. Sedangkan (يسرا) 'kemudahan' dalam bentuk Nakiroh (tanpa alif lam) yang bersifat umum/segala hal yang medatangkan kemudahan. Menandakan bahwa dalam setiap kesulitan terbuka segala macam kemudahan yang menyertainya. Kemudian Allah mengulangi firman-Nya pada ayat setelahnya untuk penekanan. Tidakkah kita percaya akan janji-Nya? Ketika datang suatu kesulitan, maka ketahuilah pertolongan Allah telah dekat. Wallahu a'lam.

September 29, 2018

Jagalah Allah


بسم الله الحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى أله و صحبه أجمعين

Segala puja dan puji syukur kepada Allah -subhanahu wa ta'ala- atas nikmat yang telah Dia berikan kepada saya dan pembaca semua. Dan salah satu nikmat itu ialah berupa pertolongan dari Allah kepada saya pribadi sehingga dapat menulis hal yang semoga dapat menjadikan setiap kata yang teman-teman baca, menjadi pemberat timbangan amal saya. Dan semoga Allah menjadikan sampainya teman-teman semua ke tulisan ini, adalah suatu kebaikan yang akan dipetik dan menjadi ladang pahala, baik bagi yang menulis dan membaca,

Sholawat serta salam, rasa rindu dan kecintaan dari kita, semoga Allah sampaikan kepada hamba kekasihnya, Muhammad bin Abdillah -shallahu 'alaihi wa salam-. Semoga salam tersebut bersambung kepada para keluarga beliau, sahabat dan orang-orang yang berdiri tegak di atas sunnah yang agung.

Rasulullah -shallahu 'alaihi wa salam- pernah berpesan kepada Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- dengan nasihat sebuah nasihat emas, bahwa beliau -shallahu 'alaihi wa salam- pernah mengajarkan kepada Ibnu Abbas beberapa untaian kalimat, di mana di antara kalimat tersebut ialah,

إحفظ الله, يحفظك... (الحديث)

"Jagalah Allah, maka Dia (Allah) akan menjagamu." [1]

Di antara hikmah yang dapat dipetik dari nasihat emas tersebut ialah, bahwasannya Allah tidak akan membiarkan hamba yang senantiasa menjaga agama Allah, menjaga syariat-Nya, menunaikan hak-hak Allah. Maka Allah tidak akan membiarkannya dalam kesusahan,

Dalam satu kesempatan, ada suatu pesan disampaikan oleh Al-Ustadz Al-Fadhl Dr. Arifin Badri -hafidzahullah-, yang mana pesan ini saya rasa baik untuk disampaikan kepada teman-teman pembaca sekalian. Yakni, beliau -hafidzahullah- berkata,

'Jangan terlalu sibuk mengkambinghitamkan orang yang mendzalimi kita, orang yang merampas hak kita. Tapi pikirkanlah, andai Allah menjaga kita, maka Allah tidak membiarkan kedzaliman atas kita dan Allah akan menjaga kita.' 


Kurang lebih begitu kata beliau.

Janganlah berkata, 'Ini karena si fulan, karena kedzaliman si fulan'. Katakanlah, 'Ini karena kita tidak menjaga Allah kemudian Allah tidak menjaga kita'. Bukankan sebesar apapun makar manusia, tidak akan mencelakakan kita jika Allah melindungi kita? Bukankah Allah sebaik-baik penjaga?

Ingatkan kita tentang doa yang dipanjatkan Nabi -shallahu 'alaihi wa salam- ketika perang Ahzab yang mana doa ini pernah dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim -'alaihi salam- ketika dilemparkan ke dalam api?

حسبنا الله ونعم الوكيل

'Cukuplah Allah bagi kami dan sebaik-baik penolong.'


Bahwasannya ribuan tetara Ahzab tidak mencelakakan Nabi -shallahu 'alaihi wa salam- dan para sahabat -ridwanullahu ajma'in-. Bahwasannya api tidak membakar tubuh Nabi Ibrahim- 'alaihi salam-. Karena tidaklah makar tesebut terhalang dari mereka kecuali atas penjagaan Allah -subhanahu wa ta'ala-.

Kemudian tentunya kita tahu kisah hijrah Nabi -shallahu 'alaihi wa salam- dan Abu Bakr Ash-Shidiq -radhiallahu anhu- ketika berada di buah tsur, ketika Quraisy mendapati jejak-jejak kaki mereka sampai ke atas goa kemudian Abu Bakr Ash-Shidiq berkata, 'Ya Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah, niscaya mereka akan melihat kita.' Kemudian Nabi shallahu 'alaihi wa salam menjawab, 'Wahai Abu Bakr, apa prasangkamu ketika ada dua orang sedangkan yang ketiganya adalah Allah?' [2]

Kemudian Allah -subhanahu wa ta'ala- abadikan kisah ini,

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ … (الأيه) (سورة التوبة:40)
"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. … (Al-Ayat)" 
(QS. At-Taubah:40)


Maka semoga Allah -subhanahu wa ta'ala- menjadikan kita hamba-hamba yang pandai menjaga agama-Nya, menjaga syariat dan hak-hak-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga kita pada ketakwaan dan jalan hidayah. Karena barangsiapa yang Allah berikan kepadanya hidayah, niscaya tidak ada orang bias menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang mampu memberikannya hidayah sedikit pun.

اللهم صل وسلم على نبينا محمد
والحمد لله رب العالمين
---
ٍSurabaya, 19 Muharrom 1440 H
Ilham

Footnote:
[1] HR. At-Tirmizi & Ahmad
[2] Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahmah Al-Mubarakfuri

Agustus 23, 2018

Bukan Si Fulan atau Si Fulan

Bukan Si Fulan atau Si Fulan
بسم الله وألحمد لله. الصلاة و السلام على رصول الله. وبعد
Di hari ini, kita telah melihat begitu banyak manusia yang berbicara, sedangkan mereka tidak memiliki ilmu terhadapnya, pada dua hal:
1. Perkara agama yang mulia ini.
2. Kisruh politik.
Dua hal yang sekarang ini paling mudah mengundang ghibah dan fitnah.

Mereka atau kita mungkin sering mengatakan. Si Fulan sok alim, si Fulan suka mengkafirkan. Ulama Fulan begini, ulama Fulan begitu. Padahal merasakan kesemutan saat duduk di majelis ilmu saja kita tidak pernah.
Atau mengatakan, pejabat Fulan begini dan pejabat Fulan begitu. Padahal nama-nama menteri saja kita tidak hafal.

Saudaraku, bukankah di hari kiamat kelak kita tidak ditanya tentang si Fulan? Bukankah Nabi Shallahu 'alaihi wa salam mengatakan,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba di hari kiamat sehingga dia ditanya, untuk apa di habiskan umurnya, bagaimana ilmunya dia amalkan, tentang hartanya darimana dan untuk apa dia belanjakan dan tubuhnya untuk apa ia gunakan." [1]

Tak ada pertanyaan kenapa Fulan? Kenapa Fulan?

Maka daripada itu, kami mengajak kepada diri kami pribadi dan teman-teman sekalian untuk berbicara sesuatu yang kita ilmui saja. Bukankah Nabi Shallahu 'alaihi wa salam telah mengatakan,

《من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت》

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata baik atau diam." [2]

اللهم صلي على محمد وعلى آله و صحبه أجمعين
وبالله التوفيق
•••
Di tengah kegembiraan persiapan walimah seorang kawan & keinginan untuk segera menyusul. Biidznillah.
Palembang, 6 Dzulhijjah 1439 H | 07:31 WIB
Ilham
•••
Footnote:
[1] HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) - Dikutip dari www.muslim.or.id
[2] HR. Al-Bukhari