بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسؤل الله
Diantara makna Rububiyyah Allah yang telah akrab di telinga kita ialah, bahwa Rububiyyah berasal dari kata Ar-Rab yang memiliki tiga makna, yakni Al-Kholqu (Menciptakan), Al-Milku (PMemiliki) dan At-Tadbiir (PMengatur).
Selain tiga makna tersebut, setelah kami membaca tulisan dari Fadhilatu Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh dalam Syarhu Tsalatsatil Ushul, rupanya Ar-Rububiyyah mengandung makna lain yang menunjukkan luasnya cakupan Rububiyyah Allah melebihi apa yang kami ketahui sebelumnya. Beliau mengatakan dalam tulisannya,
Lafadz Rububiyyah terkandung di dalamnya makna tarbiyah. Allah mentarbiyah (mendidik) hambanya. Dan makna tarbiyah adalah menjadikan seorang yang ditarbiyah naik secara tertahap pada tingkatan menuju kesempurnaan. Setiap kesempurnaan itu sesuai dengan kadarnya masing-masing. Dan jenis tarbiyah paling agung yang mana Allah mentarbiyah manusia dengan hal tersebut ialah bahwasanyya Allah mengutus para rasul kepada manusia, yang mana para rasul tersebut mengajarkan mereka dan memberikan menunjukan kepada mereka kepada hal-hal yang mendekatkan manusia kepada Allah. Dan ini merupakan sebaik-baik nikmat.[1]
Beliau -Hafidzahullah- mendatangkan firmah Allah Surah Yunus ayat 58,
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".
Bahasa yang paling dekat maknanya dengan Tarbiyyah adalah 'ngopeni' dalam bahasa Jawa. Yaitu menjaga, memelihara & merawat sesuatu secara berkesinambungan dari segi Dzohir (fisik) dan batinnya.
Maka kita mengetahui bahwasannya di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba ialah Tarbiyyah berupa diutusnya pada rasul yang mengajak kepada jalan menuju Allah ta'ala. Sebuah jalan kebaikan yang harus dibangun di atas ilmu. Sebagaimana firman Allah ta'ala dalam Surah Yusuf Ayat 108,
قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Inilah
jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu)
kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada
termasuk orang-orang yang musyrik".
Referensi: https://tafsirweb.com/3846-quran-surat-yusuf-ayat-108.html
Referensi: https://tafsirweb.com/3846-quran-surat-yusuf-ayat-108.html
Katakanlah: "Inilah
jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu)
kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada
termasuk orang-orang yang musyrik".
Al-Bashiroh, pada ulama menafsirkannya dengan Al-Ilmu.[2]
Maka sungguh benar sabda Nabi alaihi sholatu wassalam,
من يرد الله به خيرا يفقه في الدين
"Barangsiapa yang Allah menginginkan kebaikan baginya, Allah akan menjadikannya paham terhadap agama"[3]
Semoga Allah ta'ala senantiasa memberikan Tarbiyyah kepada kita. Sehingga setiap langkah kaki kita, merupakan langkah-langkah yang semakin mendekatkan kita kepadaNya Subhanahu wa ta'aala.
Wabillahi taufiq.
Note:
[1] Syarhu Tsalatsatil Ushul - Syaikh Sholih Alu Syaikh (Hal.56)
[2] Lihat tafsir As-Sa'di
[3] Riwayat Tirmidzi No.2645 & Ahmad No.2790
Referensi: https://tafsirweb.com/3846-quran-surat-yusuf-ayat-108.html
Referensi: https://tafsirweb.com/3846-quran-surat-yusuf-ayat-108.html
Katakanlah: "Inilah
jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu)
kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada
termasuk orang-orang yang musyrik".
Referensi: https://tafsirweb.com/3846-quran-surat-yusuf-ayat-108.html
Referensi: https://tafsirweb.com/3846-quran-surat-yusuf-ayat-108.html

0 Hamba Allah:
Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!